//
Seorang Chotib

PERAN STRATEGIS KHUTBAH JUM’AT BAGI PEMBINAAN UMMAH
Oleh : Muhammad Al Khaththath
Pendahuluan
Sholat Jum’at adalah sholat jama’ah yang diwajibkan atas setiap laki-laki dewasa muslim (wajib ain) yang mukim untuk mengikutinya baik itu di masjid, di gedung, maupun di tempat-tempat lainnya yang sah untuk sholat.
Sholat Jum’at pertama kali dilakukan di masa Rasulullah saw. Setelah beliau saw. Hijrah ke kota Madinah (Yatsrib), yakni setelah turunnya firman Allah dalam surat Al Jum’ah ayat 9:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Ayat tersebut menegaskan bahwa apabila khotib telah naik mimbar dan muaddzin telah mengumandangkan adzan di hari Jum’at, maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan itu dan meninggalkan semua pekerjaannya. Oleh karena itu, sudah menjadi tradisin kaum muslimin dari masa Rasulullah saw., masa khulafaur rasyidin, masa-masa khilafah Umayyah, Abbasiyyah, dan Utsmaniyyah, bahkan hingga masa di mana kaum muslimin hidup tanpa naungan khilafah seperti masa kini umat Islam senantiasa berkumpul di waktu Zhuhur setiap hari Jum’at untuk melaksanakan perintah Aaallah SWT di atas.
Yang paling menarik dari ibadah sholat Jum’at adalah adanya khutbah Jum’at yang disampaikan oleh khotib sebelum dilaksanakannya sholat jum’at. Artinya setiap jumat kaum muslimin laki-laki, baik tua maupun muda, buruh maupun majikan, guru maupun murid, dosen maupun mahasiswa, kuli maupun pedagang, sipil maupun militer, dan lain-lain senantiasa berkumpul untuk melaksanakan dan mengikuti khutbah Jum’at. Apa peranan stratetegisnya untuk pembinaan umat? Bagaimana memanfaatkan posisi khutbah jumat untuk pembinaaan umat? Khutbah yang bagaimana untuk itu, dan bagaimana menyusunnya? Tulisan ini akan menguraikannya.
Pembinaan Umat secara sistematis
Umat Islam adalah umat yang pertama kali dibina oleh Rasulullah saw. Dengan bahan baku umat yang buta huruf (ummiyyin) ternyata menjadi umat yang pelopor dan pilihan (lihat QS. Ali Imran 110). Beliau saw. Membacakan kepada mereka Al Qur’an, mensucikan mereka dari noda-noda syirik, mengajarkan kepada mereka hukum-hukum dan petunjuk hidup dalam Al Quran dan AS Sunnah. Allah SWT berfirman:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al Quran) dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al Jumu’ah 2).
Bagaimana mengembalikan kejayaan umat ini setelah kemunduran dan keruntuhan negara pelindungnya (Khilafah islamiyah) pada abad lalu? Jawabannya adalah mengembalikan kehidupan umat ini agar hidup secara Islami dengan mengembalikan hukum-hukum yang diturnkan Allah SWT agar operasional dalam kehidupan dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang bertugas menerapkanya di dalam negeri dan mengembannya ke seluruh dunia.
Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan pembinaan umat yang sistematis sehingga membangkitkan umat untuk menuntut kembali kemuliaan dan kejayaannya. Umat harus disadarkan akan jati dirinya sebagai umat terbaik, pelopor, teladan bagi umat manusia lainnya. Umat harus disadarkan bahwa kini kondisi mereka justru sebaliknya, terjelek, dan terbelakang, bahkan menjadi bulan-bulanan pihak lain. Umat harus disadarkan bahwa rahasia kemunduran dan kelemahannya selama ini adalah karena mereka telah lepas dari prasyarat bagi terwujudnya umat terbaik, yakni ada something wrong pada keimanan kepada Allah SWT, keimanan kepada kitabullah, keimanan kepada syaiat Allah, dan keimanan kepada Rasulullah serta terhentinya aktivitas amar makruf nahi munkar secara menyeluruh. Umat harus disadarkan bahwa kondisi mereka yang sedemikian mundur dan terhina adalah karena secara sistem mereka hidup di dalam masyarakat yang tidak islami, sekalipun individu-individu mereka muslim. Mereka terjerat oleh berbagai pemikiran, adadt istiadat, cara hidup, dan ideologi yang tidak Islami. Dan umat harus disadarkan bahwa kondisi mereka tidak akan berubah kalau mereka tidak mau mengubahnya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar ra’ad 11).
Oleh karena itu diperlukan para agen perubahan, berupa para pengemban dakwah yang handal, yang piawai dalam melakukan perubahan, dengan mengikuti metode perubahan yang pernah dijalankan Rasulullah saw., dengan membina umat ini kembali sebagaimana dulu Rasul membina generasi pertama umat ini, hingga peradaban Islam tegak kembali. Tentu saja itu harus dilakukan secara sistematis sehingga terwujud perubahan yang sistematis, cepat atau lambat.
Posisi Strategis Khutbah Jum’at
Khutbah Jum’at dilakukan oleh khatib Jum’at sebelum dilaksanakan sholat Jum’at. Kenapa dikatakan memiliki peranan strategis?
Pertama, saat itu seluruh kaum muslimin, khususnya laki-laki yang tidak sakit, tidak gila, dan tidak dalam keadaan bepergian, di masing-masing teritorial berkumpul di tempat-tempat sholat Jum’at. Dan mereka wajib meninggalkan pekerjaan apapun yang mereka lakukan untuk berkonsentrasi melaksanakan sholat Jum’at. Bahkan, anak-anak yang sebenarnya belum baligh pun banyak kita jumpai ikut sholat jama’ah. Forum ini adalam forum kaum muslimin paling lengkap. Tidak ada forum sepenting itu bagi kaum muslimin. Artinya, forum itu adalah kesempatan bagi para khotib untuk bertemu dengan seluruh muslim yang ada di lokasi tersebut.

Kedua, forum sholat Jum’at adalah forum tetap dan rutin yang senantiasa akan terjadi selama ada komunitas. Artinya, forum tersebut bisa dipastikan selalu siap menerima kedatangan khotib secara rutin seminggu sekali sehingga bisa diprogram untuk diarahkan pada pembinaan yang sistematis melalui khutbah dan nasihat para khotib.

Ketiga, forum tersebut dihadiri oleh jamaah yang secara psikologis siap menerima nasihat karena datang untuk niat ibadah kepada Allah SWT sehingga memiliki situasi keruhanian yang tebal. Artinya, forum dalam kondisi siap untuk patuh kepada Allah SWT dan siap menerima nasihat-nasihat yang mengarah kepada ketaqwaan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Dengan demikian khatib bisa selalu menanamkan sikap ketaqwaan kepada jamaah agar benar-benar taqwa (haqqo tuqaatih) kepada Allah SWT pada seluruh aspek kehidupan dan seluruh peraturan Allah SWT, baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlaq, math’umat, malbusat, mu’amalah, maupun uqubat.

Keempat, forum tersebut berdurasi singkat (10 menit atau paling panjang 15-20 menit), tidak ada tanya jawab, dan haram diinterupsi. Artinya, forum tersebut siap mendengarkan segala apa yang dikatakan khotib dalam nasihat-nasihatnya. Oleh karena itu, khotib harus betul-betul mengefektifkan kata-katanya (qaulan sadiida) sehingga betul-betul masuk ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Khotib hendaknya menghindari kata-kata yang tidak perlu dan menghindari pengulangan kecuali untuk penekanan dan penguatan makna. Jangan sampai jamaah bosan, mengantuk, dan tertidur. Kata –kata singkat, padat, jelas dan disampaikan dengan suara yang tegas dan keras (nyaring) dan mimik yang serius, sehingga benar-benar ditangkap secara serius, penuh perhatian, dan sami’na waq atho’na. Suasana ritual tetap harus terjaga.
Menyusun Khutbah Jum’at Yang Aktual
Mengingat posisi strategis khutbah Jum’at bagi pembinaan umat, maka harus disusun khutbah Jum’at yang betul-betul berkesan kepada para jamaah. Khutbah yang membosankan akan membuat forum kehilangan perhatian dan hilang kesan. Isi khutbah pun akan terlupakan sebelum khotib turun dari mimbar. Oleh karena itu, perlu disusun khutbah yang secara substansi pasti akan membekas pada diri masing-masing jamaah dan secara retorik akan membuat para jamaah terkesan dan terkenang serta simpati dengan khutbah yang disampaikan.
Setahu penulis, khutbah yang akan berkesan secara substantif adalah khutbah yang aktual. Yakni, khutbah yang menyinggung peristiwa terpenting pada pekan itu dan sikap apa yang diambil oleh kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa tersebut. Hal ini sesuai dengan metode Al Qur’an yang biasanya turun membahas peristiwa yang sedang terjadi pada diri Rasul, para sahabat, kaum kafir Quraisy, orang Yahudi, atau orang munafiq, maupun peristiwa dunia internasional pada waktu itu.
Yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan khutbah aktual adalah jangan terlalu panjang dalam pembahasan fakta atau analisisnya, sehingga kehilangan waktu untuk menyampaikan solusi Islam pada kasus tersebut dan sikap Islam pada peristiwa yang sedang terjadi. Karena tidak ada nilainya sebuah khutbah yang tidak menyampaikan suatu ayat atau hadits yang menilai keadaan fakta/aktualita yang diungkap.
Ketika menyampaikan solusi Islam usahakan mengkaitkan dengan satu dua hukum lain yang berkaitan yang menunjukkan integralitas Islam dan jamaah terbina dengan pandangan Islam yang komprehensif dan mereka harus disentuh agar rindu dengan kehidupan Islam dan tergerak untuk berjuang melanjutkan kehidupan islam (isti’naful hayatil Islamiyah).
Untuk bisa menyusun khutbah aktual, khotib harus rajin baca Al Quran dan Al Hadits serta buku-buku yang membahas sistem Islam secara utuh, misalnya buku Islam Politik dan Spiritual karya Hafizh Abdurrahman, Studi Pemikiran Islam karya Muhammad Husain Abdullah, dan buku-buku terbitan HT seperti Sistem Islam, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Sosial Islam, Sistem Sanksi dalam Islam, Politik Ekonomi Islam, Sistem Keuangan di negara Khilafah, dll. Selain itu, para Khotib harus rajin mengikuti perkembangan ipoleksosbudhankam di negeri ini maupun dunia internasional dengan membaca Koran, mendengar radio news and talk 24 jam, nonton TV dll. Usahakan hanya memilih satu topik paling aktual pada pekan itu. Kalau seandainya ada dua topik yang sangat menarik, maka topik kedua disinggung secara singkat pada khutbah kedua.
Setelah memilih topik teraktual pada pekan itu dengan menghafal beberapa data yang penting dan sedikit analisis pakar tertentu, maka khotib harus merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah melalui buku-buku taqofah Islamiyah di atas sehingga ditemukan ide, hukum, dan pendapat islam terhadap aktualita itu. Al Qur’an dan atau As Sunnah yang hendak dikemukakan dalam khutbah hendaknya dipastikan kecocokannya dengan topik yang dibahas dan selanjutnya khotib memastikan bahwa dia dapat melafazhkan dengan fashih, lebih utama kalau dia hafal. Setelah itu khotib harus menentukan kalimat bahasa indonesia yang tepat untuk merumuskan pesan Jumat ini kepada jamaah sebagai kesimpulan khutbah.
Khatimah
Jangan tergesa-gesa menyemburkan seluruh pikiran yang khotib miliki adalah nasihat terbaik buat para khotib pemula. Kesempatan berbicara di atas mimbar Jum’at pada forum sholat Jum’at berikutnya pasti didapat selama isi khutbah dan penampilan khotib mantab dan meyakinkan. Yang harus selalu diingat, sabda nabi saw.: “Diberinya hidayah seseorang oleh Allah lantaran usaha (dakwah) anda, adalah (pahalanya) lebih baik bagi anda daripada dunia dan seluruh isinya.”
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq! Washalallaahu’ala sayyidina Muhammadin

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s