//
Ibadah Dulu Memimpin Kemudian

Mungkin ketika membaca judul di atas kita bertanya, apa hubungan antara ibadah dan memimpin (qiayadah) ? Toh, banyak orang yang mampu menjadi pemimpin namun tidak dilandasi ibadah?

Pertanyaan di atas mungkin saja timbul jika kita bersikap sekuler, yakni memisahkan urusan dunia (Negara) dengan urusan agama. Akan tetapi jika kita seorang muslim yang kaffah, maka kita harus meyakini bahwa antara ibadah dan qiyadah (memimpin) mempunyai hubungan yang sangat erat, terlebih jika kita adalah seorang dai.

Simak saja ayat yang turun saat Rasulullah saw mendapat tugas sebagai pemberi peringatan untuk pertama kalinya;
يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!, dan Tuhanmu agungkanlah!, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstsir: 1-i7)
Ada 6 (enam) pesan yang sampaikan saat memulai tugas dakwahnya kepada umat manusia:
Bangun malam (qiyamullail)
Mengagungkan asma Allah (zikrullah)
Memberishkan hati dan jiwa
Meninggalkan perbuatan dosa
Bekerja dengan ikhlas tanpa pamrih
Bersabar dalam memenuhi perintah Allah
Jika diamati keenam pesan tersebut, maka hampir seluruhnya adalah merupakan bekal ibadah. Bahkan dalam surat al-Muzammil, Allah SWT lebih spesifik lagi memerintahkan Nabi saw untuk berusaha melakukan qiyamullail, dalam kondisi apapun, meskipun separuh malam, sepertiganya, atau lebih sedikit dari itu. Demikian juga halnya dengan tilawah al-Quran. Sebagian ulama menafsirkan kata “Qoulan Tsaqila” pada surat al-Muzammil dengan makna “Tugas yang Berat”. Dan tugas yang berat ini amat sangat sulit diemban kecuali oleh orang yang mempunyai tingkat ubudiyah dan spiritual yang tinggi.

Pernah, Fatimah puteri Rasulullah saw mengeluhkan beban yang berat dalam mengurus rumah tangga, sehingga beliau meminta kepada Rasulullah saw diberikan seorang pembantu untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Namun Rasulullah saw bukan mengabulkan permintaannya, malah berkata, “Maukah aku beri engkau sesuatu yang lebih baik dari apa yang kamu minta?” Ketika Fatimah meng-iyakan, Rasulullah saw malah bersabda, “BacalahSubahanallah, Alhamdulillah dan Allahu akbar, masing-masing sebanyak 33 kali setiap setelah shalat”.

Kisah ini menunjukkan, bahwa kekuatan ibadah dan spiritual berupa tiga bentuk zikir tersebut di atas dapat menggantikan kekuatan seorang pembantu yang membantu pekerjaan-pekerjaan rumah Fatimah.
Pemimpin yang tekun ibadah disertai kerja-kerja yang professional (ihsan) akan melahirkan hasil yang maksimal. Al-Fatih, panglima perang islam yang dapat menjatuhkan benteng Byzantium tidak terlepas dari kebiasaannya beribadah sejak beliau masih kecil dan remaja. Sejak usia akil baligh beliau tidak pernah meninggalkan qiyamullail (shalat malam). Imam Syafi’i di tengah perjalanannya selama delapan hari telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam belas kali. Ringkasnya, hampir seluruh pemimpin Muslim yang berhasil menorehkan tinta emasnya dalam sejarah tidak terlepas dari taqarrub kepada Allah, alias rajin beribadah.

Bukan hanya kita yang harus menjadikan ibadah sebagai modal kepemimpinan dan solusi bagi setiap persoalan, bahkan para Nabi yang diutus Allah SWT pun, dalam menawarkan segala solusi atas segala macam problematika kepada umatnya adalah dengan cara ibadah (menyembah) kepada Allah swt. Firman Allah SWT:
1. Misi yang dibawa setiap Nabi adalah ibadah (menyembah dan mengabdi kepada Allah)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنْ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (QS. An-Nahl: 36)

2. Solusi bagi kemusyrikan (ketidakjelasan orientasi hidup) yang dialami umat nabi Nuh as adalah ibadah
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah (QS. Al-Mu’minun: 23)

3. Solusi bagi kaum Tsamud yang matrialistik (jaya dalam bidangmateri) dan melakukan kerusakan di muka bumi adalah ibadah:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah.” (QS. An-Naml: 45)

4. Solusi kepada kaum Madyan yang maju dalam hal bangunan dan gedung, namun kropos dalam soal moral, adalah ibadah:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah (QS. Al-Ankabut: 36)

5. Solusi bagi kesalahan akidah dan ideology yang dialami kaum nabi Isa adalah ibadah:
وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” (QS. Al-Maidah: 72)

6. Solusi untuk kaum ‘Aad
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah (QS. Al-A’raf: 65)

Dari ayat-ayat tersebut, jelas sekali, bahwa solusi bagi seluruh permasalahan adalah kesalahan dalam orientasi hidup. Kaum terdahulu binasa di tengah peradaban mereka yang tinggi, adalah karena kesalahan orientasi hidup. Hidup hanya bersifat kenimatan duniawi saja, pembangunan fisik yang dilakukan kaum Tsamud, kebobrokan moral yang dilakukan oleh kaum Luth, kejahatan ekonomi dengan manupalisi timbangan dan takaran yang dilakukan kaum Madyan, adalah bentuk kesalahan dalam orientasi hidup. Orientasi hidup sebenarnya dalam Islam adalah mengabdi kepada Allah SWT. Oleh karena itu dibanyak ayat tadi, Allah memberi resep dan solusi melalui para NabiNya “ani’budullah” (hendaklah kalian mengabdi kepadaKu).

Seseorang yang orientasi hidupnya mengabdi kepada Allah SWT, maka saat mencari kebahagiaan dan kesejahteraan, ia harus mempertimbangan asal, cara dan tujuan yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Rasanya, melihat kondisi bangsa ini yang terus merosot di segala bidang, ada baiknya kita merenung kembali ayat-ayat di atas dan meluruskan orientasi hidup kita, lalu menyeusaikan diri dengan ketentuan dan pedoman yang Allah kehendaki.

Melalui ibadah dengan maknanya yang luas, yang dilakukan seluruh strata masyrakat mulai dari puncak pimpinan Negara hingga ke level rakyat terbawah, maka insya Allah benang kusut permasalahan bangsa akan segera terurai, sebagaimana solusi yang pernah ditawarkan para Nabi terdahulu.

Ditulis oleh KH. Muhammad Jamhuri Asbar ( Alumni Ponpes Daarul Rahman Angkatan 11)
http://muhammadjamhuri.blogspot.com/

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: