//
KHUTBAH JUMAT

1). KUTBAH JUMAT TENTANG KEPEMIMPINAN

Jamah Jumat yang dimuliakan Allah
Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki dua macam status social yakni Pemimpin dan yang dipimpin. Kemudian dua staus ini menciptakan pola hubungan yang khas sesuai dengan karakter personal dan masyarakatnya . Pola hubungan yang khas ini secara alamiah melembaga dalam sebuah Institusi yang dinamakan kepemimpinan.
Kepemimpinan dalam pandangan Islam merupakan amanah yang mesti diberikan kepada seseorang yang cakap dan ahli dalam memimpin, sebab bila diberikan kepada yang tidak ahlinya – apalagi diberikan kepada orang yang tidak jujur – maka yang akan timbul akibat pola kepemimpinannya adalah kehancuran dan kerusakan. Sebab itulah Islam mengajarkan apabila ingin memilih seorang pemimpin agar memperhaikan calon pemimpin itu dari segi ketaqwaannya kepada Allah. Memilih pemimpin hendaknya bukan karena dasar pilih kasih, adanya hubungan kolega atau adanya hubungan kerabat atau kekeluargaan (nepotisme) karena kepemimpinan berhubungan dengan tanggung jawab.
Dizaman sekarang ini , tidak sedikit orang yang berambisi ingin menjadi pemimpin, baik pemimpin Negara maupun pemimpin lainnya. mereka yang berambisi tersebut beranggapan menjadi pemimpin itu dapat menentukan keputusan atau kebijakan – kebijakan seuai dengan keinginannya dan kelompoknya. Maka tidak heran apabila orang yang berambisi tersebut tidak segan-segan melakukan berbagai cara dan rekayasa agar jabatan yang didambakannya itu dapat diraihnya, meskipun sampai mengorbankan orang lain .
Dalam hal kepemimpinan, Allah telah memberikan gambaran bahwa bila menjadi pemimpin hendaknya dapat berlaku adil dan tidak menuruti kehendak hawa nafsu, sebagaimana difirmankan – Nya :

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan”. (Shaad ; 26)

Ayat tersebut di atas memang ditujukan kepada Nabi Daud As, akan tetapi pada hakekatnya adalah untuk kita sekalian.
Dalam ayat tersebut tercantum prinsip-prinsip kepemimpinan yang harus dimiliki setiap muslim, sebab tiap-tiap muslim adalah pemimpin.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Kepemimpinan yang bijaksana dan adil pernah dibuktikan oleh pemimpin-pemimpin Islam. Misalnya kepemimpinan Khalifah Mansur bin Abi Amir Al-Hajib, seorang penguasa di Andalusia (Spanyol) pada saat Islam masih berkuasa di sana
Khalifah Mansur ingin membangun sebuah proyek besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, Beliau akan membangun jembatan besar untuk menghubungkan dua sisi kota yang terbelah sungai sehingga ekonomi akan bertambah lacar. Segala sesuatu untuk proyek tersebut sudah dialksanakan termasuk tentang pendanaannya, namun pembangunan jembatan tersebut tidak segera terwujud, sebab di daerah yang akan dibangun itu terdapat sebidang tanah yang dimiliki oleh seorang tua yang harus dibebaskan dulu.
Lalu Khalifah Mansur mengutus pembantunya untuk menawar ganti rugi tanah yang dimiliki orang tua itu. Pemilik tanah menghargai tananhya seharga 10 Dinas Emas . Tawaran ini disetujui, dan transaksi pun dilaksanakan, Tetapi ketika hal itu dilaporkan kepada Khalifah Mansur, beliau memerintahkan pembantunya untuk memanggil orang tua itu lalu Khalifah Mansur bertanya kepada pemilik tanah “ Benarkah engkau menjual tanahmu dengan harga 10 Dinar Emas ? “ pertanyaan itu dibenarkan oleh pemilik tanah itu.
Kemudian Khalifah Mansur berkata kepada orang tua itu “ Tanahmu ini sangat diperlukan untuk kepentingan umum dan engkau menjualnya dengan harga murah. Sekarang terimalah 100 Dinar Emas sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan kepadamu”.
Dari kisah Khalifah Mansur terebut dapat diambil kesimpulan bahwa seorang pemimpin hendaknya dapat berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan segala urusan (perkara) meskipun terhadap orang yang lemah sekalipun.
Seorang pemimpin harus melindungi orang-orang yang lemah, bukan sebaliknya malah menindas dan memperkosa hak-haknya. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu bertindak adil dan berbuat kebaikan “ (An-Nahl : 90)
Dalam hadist yang diriwayatkan Bukhori Muslim , Rasulallah SAW bersabda :

“Tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan Allah SWT pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya , yakni Imam (pemimpin) yang adil” (HR.Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah .
Abu Bakar As-Siddieq R.a patut dijadikan suri teladan bagi seseorang yang diserahi jabatan kepemimpinan. Beliau telah menunjukkan suatu sikap yang tulus dan merupakan rangkaian akhlak yang pernah beliau tuturkan dalam pidato kenegaraan ketika diangkat menjadi Khalifah. Berikut petikan pidato beliau :
“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi Khalifah atas kamu, bukanlah karena aku yang terbaik dari kamu, Untuk itu, jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat buruk luruskanlah aku. Sifat jujur (berkata benar) itu adalah suatu amanah, sedangkan kebohongan itu adalah penghianatan”.

Dari petikan pedato yang diucapkan Abu Bakar As-Siddieq R.a tersebut dapat terlihat betapa beliau telah menunjukkan sikap tawaddhu, terbuka dan siap untuk menerima kritikan. Begitu pula keamanahan serta kejujuran yang ingin beliau tegakkan bukan hanya sekedar basa basi, tetapi suatu cermin keikhlasan dan ketulusan hati nurani beliau.
Keagungan para pemimpin Islam merupakan buah hati dari ajaran kepemimpinan Rasulallah SAW. Kepemimpinan Rasulallah SAW berurat dan berakar dalam masyarakat. Nabi Muhammad SAW mencintai umat bukan dalam perkataan saja, tetapi ditunjukkan dalam perbuatan, dan dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian, maka umat pun banyak yang mencintainya. Mengikuti dengan setia ajaran-ajaran yang disampaikannya., dan apabila perlu mereka sedia berkorban melaksanakan dan mempertahankan ajaran yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Dari Khutbah yang singkat ini Khatib Menyimpulkan bahwa dalam Islam apabila ingin memilih seorang pemimpin hendaknya diperhatikan ketaqwaannya, disamping itu juga sifat tawaddhu sebagaimana dicontohkan khalifah Abu Bakar As-Siddieq R.a sehingga apabila pemimpin meimiliki sifat yang demikian maka akan terhindar dari sifat-sifat kesombongan (arogansi) dan berlaku semena-mena .
Dalam suatu masyarakat atau Negara, rakyat akan merasa betah apabila pimpinan masyarakat atau Negara itu bertindak dengan benar dan adil. Dan sebaliknya apabila suatu masyarakat atau Negara dipimpin oleh orang yang tidak bertaqwa kepada Allah, tidak berlaku adil, apalagi berperilaku buruk maka akan rusaklah apa yang dipimpinnya itu . Imam A-Ghazali mengatakan
“Rusaknya pemimpin adalah tanda kehancuran yang mengancam suatu bangsa”

2). KHUTBAH TENTANG PENDIDIKAN

Ma’asyiral muslimin wajumrotal mukminin rohimakumullah.

Pada saat ini secara umum dunia pendidikan kita sedang mengalami keadaan yang sangat memprihatinkan. Hal ini tidak bias dilepaskan dari situasi social bangsa dan Negara Indonesia yang mengalami krisis – baik bidang ekonomi, politik maupun kepercayaan. Semua itu tentu berpengaruh terhadap duni pendidikan kita, tetapi di antara ketiga hal tersebut yang paling parah adalah krisi kepercayaan.
Dalam konteks pendidikan, krisis kepercayaan terjadi akibat lembaga-lembaga pendidikan, tenaga kependidik sudah tidak lagi mampu memberikan keteladanan kepada para peserta pendidikan – (dalam arti siswa,mahasiswa). Lembaga-lembaga pendidikan kita saat ini tidak ubahnya seperti sebuah industri yang hanya memproduksi mesin dan robot. Sekolah dan kampus nyaris menjadi pabrik yang menciptakan manusia-manusia mesin dan robot yang tak lagi memiliki hati nurani.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? itu tidak lain karena bangsa Indonesia termasuk juga kaum muslimin sudah dijangkiti penyakit HUBBUD DUNYA, terlalu mendewakan kehidupan dunia yang serba materi. Sehingga disadari atau tidak, arah pendidikan kita sudah bergeser dari tujuannya semula, yaitu mencerdaskan kehidupan masyarakat yang beriman, bertaqwa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan , ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani serta berkepribadian.

Jama’ah jumat rohimakumullah.

Akibat terjadinya pergeseran visi dan filosofi pendidikan itu, lembaga-lembaga pendidikan kita sudah tidak lagi bisa diharapkan untuk menjadi benteng moral bangsa ini. Betapa sering kita membaca berita dikoran, majalah bahkan di telivisi bagaimana para pelajar kita terlibat tawuran dan tindak kriminal lainnya. Tak jarang pula kita mendengar para pelajar putri dan mahasiswi yang terjerumus praktik prostitusi dan belum lagi kasus-kasus penyalahgunaan obat –obat terlarang.
Kasus –kasus tersebut tentu menjadi aib dan mencoreng dunia pendidikan kita. Padahal bangsa kita sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang sangat teguh memelihara kesopanan dan budi pekerti, serta adat ketimuran. Tetapi setelah system pendidikan nasional direcoki oleh orang-orang yang sengaja menyuntikkan virus sekulerisme dan materialisme, maka anak –anak muda kita berubah menjadi beringas dan tak lagi memperdulikan moral dan etika kemanusiaan. Saling bantai dan saling bunuh di antara siswa sekolah sudah menjadi hal yang biasa ditengah-tengah kita.

Tampaknya para pelajar kita telah menjadi serigala buas, yang oleh Socrates (seorang filosof Yunani) disebut sebagai Homo Homini Lupus, yang artinya : Manusia telah menjadi serigala bagi manusia lainnya. Nauzubillah min zalik
Kondisi seperti ini telah disinggung oleh Allah dalam Al-Quran surat Maryam ayat 59-60 :

“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal sholeh, maka mereka akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (Maryam ; 59 -60)

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah.

Untuk mengembalikan arah pendidikan nasional kepada tujuannya semula, maka tak ada jalan lain kecuali harus melakukan koreksi total terhadap kesalahan konsep pendidikan yang terlanjur berlangsung, karena bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam, maka seyogyanya system pendidikan nasional Indonesia harus mengacu kepada nilai-nilai Islam.
Mengapa harus demikian ? sebab system pendidikan Islam adalah system pendidikan yang sempurna, yang memberikan keseimbangan pada aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap (moral, akhlak dan etika) Sehingga dari system pendidikan yang seperti ini akan lahir manusia –manusia kreatif dan cerdas tapi tetap beriman (zikir) kepada Allah seperti digambarkan dalam al-Quran surat Ali Imron ayat 191 :

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “ Ya Tuhan kami, maka peliharalah kami dari siksa neraka “ (Ali Imron : 191)

Ini memang tugas berat, sebab tujuan pendidikan Islam adalah memanusiakan manusia. Butuh waktu dan kesabaran yang tidak sedikit. Kita harus banyak melakukan pembenahan pada seluruh komponen pendidikan baik itu tenaga pendidik, tenaga kependidikan, objek pendidk (peserta didik) bahkan lembaga pendidikan itu sendiri.

Lembaga pendidikan harus dibenahai agar tidak terlalu berorientasi bisnis. Materi memang diperlukan , tetapi jangan lantaran mengejar materi, lembaga pendidikan melupakan tugas sucinya selaku penjaga moral bangsa. Kurikulum juga harus dibenahi agar benar-benar sesuai dengan tujuan untuk membentuk manusia yang handal dalam bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ) tapi juga tangguh IMTAK (Iman dan Taqwanya). Begitu pula guru sebagai orang yang harus digugu (diikuti) dan ditiru, harus dibenahi moral dan akhlaknya agar bias memberikan keteladanan kepada anak didik.
Kepada para pendidik haruslah disadari bahwa anda mengemban tugas berat namun sangat mulia, yaitu menyempurnakan budi pekerti manusia sebagaimana disabdakan Rasulallah SAW. :

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia

Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan bimbingannya kepada kita, agar bangsa Indonesia dapat keluar dari krisi keteladanan yang meladan dunia pendidikan kita

3). URGENSI DO’A

Jamah Jumat yang dimuliakan Allah
Manusia dalam fungsinya sebagai pengrmaban amanat dari Allah bukanlah memikul tugas yang ringan, manusia haruslah berfikir untuk mengelola dan mensejahterakan kehidupannya sendiri dengan memanfaatkan alam seisinya tanpa merusak kesimbangannya.
Untuk itulah Allah SWT memberikan kepada manusia sebuah anugerah yang amat besar yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal fikiran.
Dengan akal itu, manusia dapat berfikir untuk mensejahterkan kehidupannya sendiri dengan memanfaatkan apa yang telah disediakan Allah baginya, yaitu alam semesta.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Ghosyiyah ayat 17-20 :
Allah SWT berfirman :

Artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan”.

Hadirin, kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Ayat di atas memberitahukan kepada kita bahwasanya semua ciptaan Allah hendaknya kita fikirkan, bagaimana Allah SWT telah menciptakan semuanya, memang Dia-lah yang maha Agung dan maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan dengan memikirkan semua ciptaan Nya agar kita dapat mengambil manfaat darinya.
Ayat di atas juga mengandung pengertian bahwasanya akal fikiran merupakan unsur yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan, sekaligus merupakan alasan agar manusia berilmu pengetahuan dengan kewajiban untuk belajar.
Namun demikian, tidak berarti bahwa hanya akal dan ilmu pengetahuan saja yang dapat menjamin keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupan, sebab banyak kita jumpai suatu masalah yang meragukan dan sulit untuk dipecahkan sehingga dapat menjerumuskan manusia ke lembah kehancuran dan kebinasaan.
Oleh sebab itu Allah SWT yang maha Rahman dan Rahim yang telah memberikan akal fikiran dan juga alam semesta , serta telah memberikan pedoman-pedoman yang dapat dijadikan untuk memutuskan suatu perkara, yaitu agama Islam
Islam dengan pedoman dan petunjuk dari Allah mampu menyelamatkan manusia dari lembah kehancuran dan kebinasaan, karena akal hanya dapat memandang sebatas dihadapannya saja, sedangkan Islam memandang sampai masa depan hingga sampai kepada kehidupan akhirat.
Dengan demikian siapa saja yang berpedoman kepada aturan-aturan Allah, maka dialah yang akan hidup tenang, aman dan damai
Oleh karena itu, ilmu pengetahuan saja, tidak dapat menjamin ketenangan dan kedamaian dalam hidup juga keberhasilan tanpa disertai dengan ajaran agama Islam
Dengan kata lain, ilmu pengetahuan tanpa agama dapat kita ibaratkan orang yang berjalan dengan mata buta. Sedangkan agama tanpa ilmu, ibarat orang yang berjalan dengan mata yang tajam, namun kaki yang digunakan untuk berjalan tidak sempurna (pincang)
Rasulallah SAW. Pernah bersabda dalam sebuah hadist yang artinya :
“Barang siapa menghendaki (kebahagiaan hidup) dunia, maka hendaklah dengan ilmu pengetahuan. Dan barangsiapa yang menghendaki (kebahagiaan hidup) akhirat, maka hendaklah dengan ilmu pengetahuan. Dan barangsiapa yang menghendakii (kebahagiaan hidup) kedua-duanya (dunia dan akhirat), hendaknya dengan ilmu pengetahuan”

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Dari hadist Rasulallah SAW di atas, maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan itu erat sekali hubungannya dengan ilmu agama, meski dalam batas-batas tertentu ilmu pengetahuan itu sendiri tidak dapat mendahului agama, sebab agama iu telah dijamin kebenarannya secara mutlak.
Karena agama itu berasal dari Allah SWT.

Hadirin siding Jumat yang dimuliakan Allah
Dari keterangan tadi, maka nyatalah bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, bahkan dalam agama Islam menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan, dan Islam tidak mengharapkan umatnya menjadi manusia-manusia yang bodoh, sebab orang-orang bodoh akan menjadi orang-orang yang terbelakang yang akan mengikuti kemana orang-orang yang mengerti itu pergi.
Dan juga menuntut ilmu itu bukan hanya ketika kita masih muda saja, melainkan kewajiban menuntut ilmu itu mulai dari masa bayi hingga kita dipanggil Allah SWT untuk menghadap-Nya (mati)

Rasulallah bersabda dalam sebuah hadist yang artinya :
“Tuntutlah ilmu pengetahuan sejak dari buaian hingga ke liang lahat”.

Oleh sebab itu kita berdoa kepada Allah SWT agar diberi kesadaran akan pentingnya ilmu dalam kehidupan ini dan agar kita diberi kekuatan untuk selalu menghargai ilmu dan semangat untuk menuntutnya, sehingga dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki juga didasari dengan ktaqwaan dan keimanan yang sangat kuat Insya Allah akan membimbing kita mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik kebahagiaan dikala hidup di dunia maupun di akherat kelak Insya allah.

Ma’asyirol muslimin, siding Jumat yang dimuliakan Allah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWR dengan berusaha untuk lebih giat menjalankan perintah-perintah-Nya dengan dilandasi keimanan kepada-Nya dan dengan penuh harapan akan keridhoan-Nya dengan penuh harapan akan keridhoanNya dan pahala akhirat.

. Allah itu memiliki nama-nama yang baik (al-asma’ul husna), dan berdoalah dengan menggunakan nama-nama itu” (Al-A’raf : 180)

Doa merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Bahkan ritual jenis-jenis ibadah mahdhah sendiri selalu terdapat ritual doa, seperti dalam sholat, kita disuruh berdoa yang telah dirumuskan, tatkala duduk di anara dua sujud, begitu juga tatkala dikahir attahiyat menjelang baca salam. Begitu pula dalam ibadah-ibadah mahdhah lainnya.

Pembicaraan doa akan senantiasa terkait dengan nilai ketauhidan. Bahwa orang melayangkan doa kepada Allah hakekatnya telah mengakui akan dirinya yang lemah, serba keterbatasan dan hanya Allah-lah yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Kasih Sayang. Doa juga mencerminkan kita senantiasa butuh kepada Allah. Orang yang enggan berdoa bisa dikatakan sombong karena menganggap dirinya tidak memerlukan pertolongan Allah. Padahal setiap muslim sejati ia harus merasa butuh akan pertolongan Allah. Dan sungguh nista bagi orang yang menengadah kepada sesama makhluk. manusia

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Allah melarang kepada hamba-Nya berdoa kepada selain-Nya. Sebab Allah lah tumpuan harapan. Tidak ada usaha kecuali usaha-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali kekuatan-Nya. Maka seorang muslim sejati pantang berdoa kepada sesama makhluk, termasuk kepada orang-orang atau kubur orang saleh. Apalagi menyandarkan doanya kepada benda-benda yang dikeramatkan oleh kaum musyrikin, seperti keris, jimat dan lain sebagainya.
Allah SWT Berfirman :

“Orang-orang tempat kamu berdoa selain Allah itu adalah hamba seperti kamu. Cobalah berdoa kepada mereka, apakah mereka dapat mengabulkan doamu, bila kamu memang bena !r” (Al-A’raf: 194)

Sebagaimana bunyi ayat yang telah khatib bacakan di awal khutbah ini bahwa kita sebagai seorang muslim sudah dipersilakan untuk memohon segala keperluan. Karena memang manusia itu dhaif (lemah), sangat memerlukan akan bantuan. Cepat gelisah ketika menghadapi problem-problem yang tengah dihadapinya. Entah itu problem penyakit yang menimpa dirinya, orang tuanya, anak atau isterinya, problem mata pencaharian, jatuh pailit, dan lain sebagainya. Ini tentu menggelisahkan bagi manusia normal. Akan tetapi sebagai seorang muslim problematika kehidupan yang demikian itu seyogyanya dibawa lari kepada Allah, seraya mengadukan halnya dan memohon bantuan-Nya. Insya Allah, Dia Yang Maha Rahman dan Maha Rahim akan mengabulkan permohonan seorang muslim yang sepenuhnya meyakini akan ke-Rahiman Allah, sebagamana firmannya :

“Bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku. Karena itu, hendaklah mereka mengabulkan permintaan-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah : 186)

Sebenarnya, seorang muslim sejatinya tidak menunggu terlebih dulu munculnya masalah baru. Sebab waktu lapangpun seharusnya kita tetap berdoa. Kita patut malu hati hanya datang berdoa ketika waktu dalam kesusahan saja. Supaya tidak termasuk golongan manusia yang disebutkan dalam a-Quran surat Az-Zumar, ayat 8 yang berbunyi :

“Bila manusia merasakan petaka, ia berdoa kepada Rabbinya dengan tulus. Kemudian setelah Tuhan memberikan nikmat kepadanya, ia lupa dengan doa yang ia panjatkan kepada –Nya sebelumnya.: (Az-Zumar ; 8)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah .
Betapa urgensi (pentingnya) doa bagi seorang muslim, sebab itu al-Quran maupun hadist Nabi SAW. Banyak memberikan pelajaran-pelajaran berupa contoh-contoh redaksional (susunan kalimat) doa, dan Kita tinggal memilih doa-doa mana yang hendak kita maksudkan. Doa-doa dalam al-Quran meliputi banyak masalah dari ikhwal meminta keturunan yang saleh, kehidupan yang penuh kebaikan (hasanah) dan kehidupan kelak di akherat yang sentosa. Ikhwal memohon ketabahan hati dalam beragama, kelapangan dada, kemudahan segala urusan dan sebagainya.
Sedangkan hadist Nabi SAW juga banyak memberikan ajaran-ajaran doa dengan kalimat-kalimat yang tinggal kita hapalkan untuk diamalkan sebagaimana keperluan kita.
Dari sekian banyak doa yang pernah diajarkan Rasulallah SAW diantaranya : yang berkenaan dengan nuansa bulan suci Ramadhan dimana awwaluhu Rohmatun, wa Ausatuhu maghfiratun wa Aakhiruhu ‘itqun minannaar kita dianjurkan untuk memperbanyak doa diantaranya :

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.